Ribuan Pahlawan Devisa Hongkong Mudik
Kemeriahan mudik lebaran tak hanya dirasakan di tanah air. Di luar negeri kemeriahan pulang kampung juga terasa di Bandara Chep Lap Kok, Hong Kong. Ribuan TKW Indonesia sejak H-7, 23 September telah memadati bandara tersebut untuk pulang ke tanah air.
pada sabtu pagi ini (27/9) diperkirakan mulai hari itu sekitar 1000 pemudik asal Indonesia yang pulang dengan beberapa maskapai yang memiliki penerbangan ke tanah air, khususnya daerah lumbung TKW, yaitu beberapa kota pulau Jawa seperti Jakarta, Semarang, Surabaya dan Jogjakarta.
Dicky Dharjanto, General Manager Garuda Indonesia Hong Kong Branch mengungkapkan sudah sejak 20 September hingga pertengahan Oktober mendatang, tiket Garuda Indonesia untuk tujuan kota-kota tersebut semuanya sudah fully booked. “Hampir 95 persen jumlah penumpang kami adalah para TKW yang mudik ke tanah air untuk merayakan lebaran di tanah air. Sisanya adalah pebisnis atau warga asing yang ingin berlibur ke Indonesia,” paparnya tadi pagi (27/9).
Dicky mengungkapkan untuk melayani penerbangan para TKW, pihaknya telah memiliki penerbangan lanjutan ke beberapa kota seperti Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Solo serta Denpasar setelah melalui Jakarta. Mengingat daerah tersebut dan sekitarnya telah dikenal sebagai lumbung pahlawan devisa di Indonesia.
“Mereka rata-rata membeli tiket 1 bulan sebelumnya baik secara on-line maupun datang langsung. Itulah sebabnya pertengahan September lalu, seluruh tiket ke tanah air sudah habis,” tambahnya. Dalam satu hari, rata-rata mampu menerbangkan lebih dari 400 penumpang, dan sebagian adalah para TKW ke Indonesia dengan 4 penerbangan tujuan kota-kota di atas.
Ini masih ditambah beberapa penerbangan asing yang juga membuka rute ke Indonesia seperti Royal Brunai (Hong Kong-Surabaya via Bandar Seri Begawan), Cathay Pasific (Hong Kong – Jakarta, Hong Kong – Surabaya), Eva Air Taiwan (Hong Kong – Jakarta, Hong Kong – Surabaya via Taipei) ditambah China Airlines (Hong Kong – Jakarta).
Eva Liu, staff counter Cathay Pasific mengungkapkan, sejak 20 September tiket jurusan ke beberapa kota di Indonesia semuanya penuh, sehingga mereka tidak melayani pembelian secara langsung. “Sudah seminggu terakhir, banyak penumpang ke Indonesia didominasi oleh pekerja Indonesia.
Bahkan untuk flight hari ini, Hong Kong – Surabaya lebih dari 90 persen adalah dari Indonesia. Sungguh luar biasa, hal ini mengingatkan seperti libur Imlek bagi masyarakat Cina,” paparnya.
Tak heran, antrian check in cukup panjang membuat salah satu bandara termodern itu mirip Terminal Bungurasih di Surabaya. Ratusan TKW tumplek blek dan berjajar antre menunggu check in. Berdasarkan pengamatan Surabaya Post beberapa hari terakhir di bandara, hari ini (H-3) dan besok (H-2) adalah puncak mudik para TKW Indonesia di Hong Kong. Hampir 1000 penumpang terus berdatangan untuk antre check-in. Bahkan, beberapa di antaranya ada yang nekat numpang tidur di bandara demi mendapatkan nomor antrean check in lebih awal.
“Saya sudah datang di bandara sejak jam 11 malam tadi malam, biar dapat nomor antrean lebih depan. Ya sekalian tidur sambil sahur di bandara. Kan bandaranya enak, adem. Kalau nggak antre sejak malam, bisa-bisa malah dapat nomor yang paling belakang. Belum lagi kita kan puasa mas,” papar Susmini Kasmun, BMI asal Pagotan-Madiun saat ditemui di Hong Kong International Airport hari ini tengah antri check in di konter Cathay Pasific.
Dia mengaku rela harus bermalam di bandara, mengingat sudah empat tahun terakhir ini tidak pulang ke tanah air. Lagipula dia sudah sangat rindu dengan anak perempuanya yang sudah ditinggalkan merantau sejak masih berumur 1 tahun. “Makanya sejak di rumah majikan sudah ingat-ingat rumah. Wis gak kuat, ya sudah ke bandara saja, biar cepat sampai,” papar Susmini yang mengaku baru akan tiba di rumahnya satu hari lagi, karena harus menempuh perjalanan 5 jam dari Surabaya. “Nggak apa-apa mas, yang penting bisa pulang dan riyayan (berlebaran.red) di rumah,” pungkasnya.
Hal serupa juga diakui Suniti Riyadi, TKW asal Ketapang-Banyuwangi. Untuk pulang kampung seperti saat ini, dia harus menunggu enam tahun. Itupun harus merayu majikannya agar diberi kesempatan libur bertepatan dengan Lebaran. Mengingat di Hong Kong, September dan Oktober sebenarnya adalah waktu libur hari kemerdekaan Tiongkok. Sehingga para majikan butuh para pembantu untuk menjaga rumah.
“Sebelum tanda tangan kontrak, aku sudah minta bisa pulang pas lebaran. Kalau nggak, aku nggak mau,” paparnya sambil membawa bagasi hingga 50 kilogram. Padahal batas bagasi bagi para TKW hanya 35 kilogram. “Barangnya dibagi sama anak-anak yang juga mau pulang, biar nggak kena denda,” begitu triknya dan para TKW yang over bagasi.
Sambil menunggu antrean, banyak juga TKW yang asyik menggelar beberapa makanan di lantai bandara. Tentu saja bagi mereka yang hari itu tidak berpuasa. Tak heran, hal ini sempat mengundang teguran dari petugas bandara yang tidak ingin tempat mereka dikotori. “Hampir selalu bila ada liburan pekerja Indonesia, kami harus lebih siaga untuk memperingatkan mereka agar tidak makan sembarangan di sini. Lihat saja, semakin banyak mereka (TKW) yang datang, masih saja kotor,” papar Liu Kong, petugas kebersihan Hong Kong International Airport yang mengaku kewalahan karena mudiknya para TKW Indonesia.*







