Sumarni Markasan dan Perjuangannya Mengangkat Nasib Para ”Pembantu” di Singapura
Berangkat, Jangan Bepersepsi Babu
Sumarni Markasan sudah 12 tahun ini menjadi penata laksana rumah tangga (PLRT) di Singapura. Bersama teman-temannya senasib, dia mendirikan organisasi. Apa saja yang dia perjuangkan melalui organisasinya itu?
—————–
Organisasi itu bernama Himpunan Penata Laksana Rumah Tangga Indonesia di Singapura (HPLRTIS). Dan, Sumarni adalah ketuanya. ”Problem utama yang sering kami hadapi adalah adaptasi dan ketidaksiapan TKI,” ujarnya.
Menurut perempuan 36 tahun itu, pangkal dari masalah adaptasi dan ketidaksiapan TKI adalah persoalan persepsi. Persoalan itulah yang mengentalkan pandangan inferior terhadap PLRT. Pekerjaan sebagai PLRT melulu menjadi subordinasi bagi profesi kelas atas lainnya adalah persepsi yang mengeram di benak para PLRT sendiri.
”Yang harus mengubah itu adalah para TKI sendiri. Pada awalnya, semua sikap dan perilaku kita itu kan berawal dari persepsi. Kalau dari awal mau berangkat kerja ke luar negeri persepsinya sudah mau jadi babu, ya susah,” katanya.
Semestinya, sambung ibu berputra satu itu, ketika akan berangkat ke luar negeri, meski menjadi PLRT, seorang TKI harus punya persepsi bahwa dia sedang dalam proses ”transaksi jual beli”. Jadi, TKI harus merasa punya daya tawar, bukan hanya merasa sebagai seorang abdi yang bisa diperintah-perintah seenaknya.
”Artinya, TKI harus merasa saya menjual keahlian; bisa memasak, menjahit, tahu seluk-beluk keterampilan merawat kesehatan anak, et cetera. Itu daya tawarnya. Dan, majikan membeli keahlian saya itu,” ujar Mary -panggilan akrab Sumarni- yang kini bekerja di rumah seorang keluarga asal Finlandia.
”Tapi, konsekuensinya, seorang TKI yang mau menjadi PLRT di luar negeri harus punya keterampilan lebih,” katanya. Misalnya, bisa menjahit, komputer, hingga bahasa Inggris. Sayang, itu yang masih belum sepenuhnya kita miliki. ”Akhirnya, banyak yang pertama datang ke sini menjadi minder, merasa tak punya daya tawar,” sambungnya.
Akibatnya, dalam posisi nirdaya tawar seperti itu, para PLRT mudah mendapatkan tindakan sewenang-wenang dari majikan. ”Problemnya memang kompleks, juga struktural terkait pendidikan di negeri kita. Ini PR (pekerjaan rumah) bersama,” tegas Mary.
Apakah tak ada pelatihan sebelum berangkat ke luar negeri? ”Ada, tapi sering hanya formalitas,” katanya.
Akhirnya, sang majikan kesal karena si TKI tak punya keterampilan lebih. Sedangkan si TKI merasa takut karena dalam persepsinya dirinya memang tak boleh melawan.
Masalah sepele soal komunikasi, misalnya. Ketidakmampuan berbahasa Inggris membuat sang majikan harus berkali-kali mengutarakan maksudnya bila menghendaki sesuatu. ”Itu lama-kelamaan menjadi masalah besar,” ujarnya.
Soal adaptasi, misalnya, pengenalan tentang budaya mayoritas para majikan di Singapura, baik itu warga negara Singapura maupun warga negara lain yang tinggal di sana, yang tinggal di apartemen maupun kondominium yang tinggi. Tak mudah bagi para PLRT untuk beradaptasi, mengingat tempat tinggal PLRT sangat jauh berbeda. Itu berlaku untuk hal-hal sederhana sekalipun. ”Seperti menjemur pakaian,” ujarnya.
Solusinya, kata dia, hanya satu. ”Pendidikan sebelum berangkat kerja harus diutamakan. Jangan hanya TKI dianggap sebagai aset komersial, tapi tak pernah diperhatikan,” katanya.
Pendidikan yang dimaksud Mary termasuk pengenalan budaya masyarakat di tempat para TKI akan mencari rezeki. Kecukupan pendidikan itulah yang bakal memupuk rasa percaya diri TKI, yang muaranya akan membuat daya tawar mereka bisa mendaki.
Dubes RI untuk Singapura Wardana menuturkan, soal keterampilan memang menjadi salah satu hambatan. ”Misalnya, soal pengenalan terhadap peralatan rumah tangga modern,” ujar pria asal Klaten itu.
Kondisi tersebut, kata Wardana, menimbulkan hambatan komunikasi dan memunculkan penilaian bahwa PLRT Indonesia tidak berkualitas. Sang majikan merasa kecewa karena telah mengeluarkan biaya yang tak sedikit untuk membayar gaji dan pajak, namun kualitas sang PLRT tak sesuai harapan. ”Itu sering memicu tindakan kekerasan fisik dan verbal dari majikan. Suasananya menjadi tidak harmonis. Akhirnya si PLRT menjadi nggak kerasan. Kabur jadi salah satu pilihan,” tuturnya. (eri/iw/kum)







